VCO yang menyehatkan
Makin banyak orang yang ngeh akan tingginya manfaat minyak kelapa murni atau VCO bagi kesehatan.
Alhasil, berjualan “minyak perawan” ini pun makin menguntungkan.
Inilah produk hot item yang tengah menjulang di pasaran. Sempat tenggelam oleh berita heboh buah merah yang diyakini punya kandungan vitamin dan antioksidan sangat tinggi, lambat laun khasiat minyak kelapa murni atau virgin coconut oil (VCO) kembali menjadi buah bibir.
Tentu saja heboh VCO ini bukan lantaran adanya kata virgin atawa perawan. Pertama, harga VCO yang sering juga disingkat virgin oil atau minyak perawan ini relatif murah, sekitar Rp 25.000 per botol isi 100 ml-120 ml. Bandingkan dengan harga sari buah merah yang mencapai Rp 125.000 per botol ukuran yang sama. Kedua, makin banyak pedagang yang menjual minyak kelapa murni sehingga memudahkan masyarakat membelinya. Coba saja tengok, saat ini makin banyak apotek, toko obat, ataupun agen dan distributor yang menawarkan minyak kelapa murni ini di seantero Indonesia.
Tak usah heran, seiring dengan makin banyaknya outlet penjualan minyak kelapa murni, makin licin pula uang yang meluncur masuk ke kantong para produsen maupun distributor. Agung Adiasa, produsen VCO di bawah bendera PT Arbaa Kifika, sukses menjual 10.000 botol ukuran 100 ml per bulan. Padahal, pemilik kebun kelapa seluas 25 ha di Lampung ini baru efektif memasarkan VCO sejak Maret lalu.
Ny. Herry Subandrio, seorang ibu rumah tangga, bisa menjual antara lima sampai sepuluh dos isi enam botol ukuran 150 ml setiap bulan. Ibu berusia 51 tahun ini mulai memasarkan minyak perawan merek Mentawai Vico tiga bulan
silam. Malah, Coconut Center di Yogyakarta setiap bulan mampu menjual rata-rata 10.000-15.000 botol ukuran 120 ml.
Mengandung gizi seperti ASI
Sesungguhnya VCO belum melalui uji klinis yang memadai dan terdaftar sebagai obat. Namun banyak orang percaya -setelah mendengar cerita dari mulut ke mulut serta berbagai penelitian di luar negeri- bahwa khasiat minyak kelapa murni ini sungguh dahsyat. Kalau dengar ucapan Arif Nur Wahyudi, Direktur Marketing Coconut Center, Yogyakarta, wow…, hebat banget kemampuan si VCO. “Sebagai antivirus, antibakteri, antijamur dan protozoa, mengatasi kolesterol, diabetes, dan hepatitis, bahkan untuk HIV AIDS juga sangat efektif,” kata Arif berpromosi.
Agung bilang, seperti halnya buah merah yang bukan obat, VCO termasuk jenis makanan yang berdampak preventif alias mencegah penyakit sekaligus meningkatkan daya tahan. Penderita penyakit pun cepat pulih kalau menenggak VCO. Sejauh penelitian yang sudah dilakukan, VCO yang oleh orang Malaysia disebut minyak kelapa dara ini mengandung asam laurat (lauric acid), zat antibodi yang dapat meningkatkan kekebalan tubuh terhadap serangan penyakit. “Apabila ibu mengonsumsi minyak kelapa, kadar asam laurat dalam air susunya meningkat sampai tiga kali
lipat,” ujar Agung.
Selain diminum langsung satu-dua sendok makan setiap hari untuk menjaga kebugaran, minyak kelapa ini juga dapat diolah menjadi produk-produk turunan. Contohnya sabun mandi, kosmetik, hingga semacam arak atau minuman beralkohol.
Belum ada standar kualitas dan mutu
Seiring dengan makin meningkatnya permintaan, makin banyak pula pemain yang terjun di bisnis VCO. Apalagi, melalui informasi dari mulut ke mulut serta penjelajahan (browsing) di internet, cukup banyak calon pembeli di luar negeri yang bersedia menampung minyak murni ini. Berbagai merek pun beredar di pasaran dari produsen yang tersebar di berbagai penjuru Nusantara. Ada merek Mentawai Vico, Natural Virgin, Arbaa Kifika, dan Virgin Oil.
Namun, karena belum ada asosiasi serta perhatian yang cukup dari pemerintah terhadap tren minyak kelapa murni
ini, standar mutu produk pun berbeda-beda. Seharusnya, menurut standar internasional, kandungan asam laurat di
minyak kelapa murni ini minimal 25%. Kalau kandungannya kurang dari 25%, minyak ini relatif tak berkhasiat.
Nah, kalau banyak orang mulai tertarik membeli minyak kelapa murni tapi kualitasnya tak diawasi, akan muncul
produsen yang serampangan menjual VCO. Hal ini bisa mengakibatkan pembeli kecewa karena tak terbukti
manfaatnya. Ujung-ujungnya produsen lain yang terkena getahnya dan produknya ikut tak laku.
Jadi, sebelum bikin masyarakat kecewa, ada baiknya segera membentuk asosiasi. Atau meminta pemerintah ikut mengawasi peredaran VCO. Seperti halnya khasiat VCO, tak ada salahnya bertindak preventif, kan.
Cara Gampang Mengolah si Virgin
Yang dimaksud sebagai virgin oil adalah minyak kelapa yang diolah tanpa pemanasan atau dengan pemanasan terbatas, hingga minyak ini berwarna bening (jernih) dan beraroma khas kelapa. Bersamaan dengan minyak zaitun olive oil), minyak wijen (sesame oil), dan minyak tengkawang (tengkawang oil), virgin oil banyak diserap oleh industri farmasi dan kosmetik.
Minyak kelapa selama ini lebih banyak dikenal sebagai minyak goreng. Padahal, sebelum agroindustri CPO dari sawit merajai pasar minyak nabati dunia, minyak kelapa juga merupakan bahan baku industri kosmetik, terutama sabun mandi. Setelah CPO masuk ke pasar dunia, minyak kelapa sebagai minyak goreng maupun bahan baku industri farmasi langsung tersisih.
Secara sederhana, menurut pengamat agribisnis F. Rahardi, ada dua cara untuk menghasilkan minyak kelapa murni: proses panas dan dingin. Secara tradisional, masyarakat membuat minyak kelapa dari santan yang dipanaskan. Hasilnya adalah ampas kelapa, blendo atau blondo, dan minyak goreng. Kalau pemanasan santan ini dilakukan secara terbatas dengan suhu 60°-80° C, minyak yang dihasilkan akan jernih dan bisa dikategorikan sebagai
minyak kelapa murni. Kalau pemanasannya mencapai suhu di atas 100° C, hasil minyaknya akan berwarna kuning tua atau kecokelatan. Ini merupakan minyak goreng biasa yang tidak bisa dikategorikan sebagai minyak kelapa murni.
Adapun proses dingin itu dengan cara fermentasi. Caranya, parutan kelapa diberi ragi air ketam sawah (yuyu)
sebagai biang atau starter. Pada proses selanjutnya, biang ini bisa menggunakan adonan yang telah terfermentasi atau minyak kelapa murni hasil fermentasi yang sudah jadi. Adonan yang telah diberi biang disimpan selama semalam agar terjadi proses fermentasi. Paginya, adonan yang telah lunak dijemur antara dua sampai tiga hari penuh. VCO yang benar-benar bermutu tinggi dihasilkan dari proses fermentasi dengan enzim poligalakturonase, alfa amylase, protease, atau pektinase. Selain penggunaan enzim, fermentasi juga bisa dilakukan dengan bantuan bakteri sacharomyces cerevisiae. Caranya, daging buah kelapa diparut seperti biasa. Dalam volume besar, pemarutan dilakukan dengan mesin. Hasil parutan diambil santannya dengan cara dicampur air kelapa, diaduk-aduk, dan diperas atau dipres. Penggunaan air kelapa dimaksudkan untuk mempercepat proses penggumpalan santan. Setelah didiamkan semalaman, keesokan harinya dilakukan pemisahan antara protein kelapa atau blondo dengan minyak kelapa murni.
Menurut Arif Nur Wahyudi, Direktur Pemasaran Coconut Center, Yogyakarta, minyak kelapa yang dihasilkan dengan
proses dingin bisa bertahan sampai 20 tahun. “Enggak rusak strukturnya,” ujarnya. Namun, menurut Agung Adiasa,
produsen VCO berbendera PT Arbaa Kifika, paling banter minyak kelapa murni hasil proses dingin akan bertahan selama tiga tahun. Adapun bila melalui proses pemanasan, umurnya cuma dalam hitungan bulan, baunya sudah
tengik.
Harga minyak kelapa murni di pasar internasional paling rendah Rp 100.000/ kg. Kalau kualitas minyaknya cukup
baik, harganya bisa melambung sampai Rp 500.000/kg. Di pasaran lokal, harganya cukup bervariasi, sekitar Rp
25.000 per botol ukuran 100 ml-120 ml, atau Rp 25.000 per botol ukuran 250 ml, atau ada juga yang menawarkan Rp
30.000-Rp 35.000 per botol ukuran 150 ml.
sumber : Kontan No. 38, Thn IX, 27 Juni 2005
04-07-2005 07:50:49